"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: "LAWAN..!!"
Anda tentu tau syair fenomenal widji tukul tersebut. Kata siapa syair tersebut hanya cocok di masa orde baru? Tp juga cocok untuk orde lama. Mari tanyakan kepada wartawan mochtar lubis. Wartawan dan sastrawan se angkatan chairil anwar. Mempunyai pena setajam anak panah, membuat nya di penjara 9 tahun orde lama. Kritik tajam atas anggota parlemen yg morat marit, penuh korupsi, ekonomi yg terus memburuk. Sampai kritik pedas, sikap sang presiden soekarno yg menurut nya terlalu condong ke kiri, dan mengekang kebebasan berekspresi lewat sastra. Moctar lubis, secara terang2 an, menilai, sukarno telah di setir PKI. Yg menurut nya hanya kumpulan kapitalis tersembunyi.. Bisa di tebak, tanpa pengadilan, moctar lubis di penjara dan koran tempat nya menulis, "indonesia raja" pun di bredel.
Video di atas, adalah cuplikan2 wawancara mochtar lubis dengan willem oltmans, kisaran tahun 1967. Dalam wawancara dengan bahasa inggris, mochtar lubis menjelaskan panjang lebar, kenapa dia bisa di penjara oleh pak karno, dan kisaran situasi tahun 1960an, dan pendapat nya mengenai pak karno. Dalam tahun2 itu, mochtar lubis menyanjung jenderal suharto dan orde baru, sebagai solusi permasalahan bangsa. Tp sanjungan itu tidak lama, sekitar tahun 1970 dan tahun berikut nya, mochtar lubis begitu kritis terhadap orde baru, dan kembali masuk penjara. Dia juga di kenal sangat anti komunis. Tp tak ada gading yg tak retak, mochtar lubis di kritik, tak bersuara terhadap korban2, G30S dan para tahanan politik. Walau kemudian dia bersimpati juga pada akhir nya.
Mochtar lubis, hanya contoh dari tokoh2 yg di bungkam kritik nya, lain nya ada sutan sjahrir, mohammad roem, buya hamka, dan kompatriot nya di masa lalu, pak hatta, yg walau tidak di penjara, tp di larang menulis dan mengemukakan pendapat di muka umum. Bukan lah sebuah kebencian, mereka semua sayang pak karno, yg mereka tidak suka hanya kultus individu berlebihan, terbukti buya hamka dengan jiwa besar dan rasa sedih, meng-imami jenazah pak karno..
sumber video :/istimewa